Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Hujurat : 12)
Kebiasaan bergosip atau ghibah memiliki pengaruh negatif yang sangat besar terhadap keberhasilan mengasuh anak (parenting). Setiap ayah dan bunda sebagai orang tua anak harus memegang teguh untuk tidak terbiasa ghibah. Dampak tidak langsung dari ghibah terhadap pola asuh akan mempengaruhi pembentukan karakter anak yang kurang baik, meskipun ghibah dilakukan oleh orang tua anak di luar lingkungan keluarga.
Pengaruh negatif kebiasaan ghibah dan prasangka buruk lainnya terhadap keberhasilan mengasuh anak antara lain:
- Menjadi Role Model Yang Buruk. Aanak-anak belajar dengan cara melihat dan mendengar apa yang dlakukan orang tuanya. Jika orang tua terbiasa membicarakan keburukan orang lain di depan anak, anak akan memiliki kesan bahwa mencari-cari kesalahan orang lain, bergosip, dan tidak menjaga rahasia dianggapnya sebagai hal yang normal dan boleh dilakukan.
- Membentuk Karakter Anak yang Kurang Empati. Ghibah melatih pikiran untuk selalu mencari celah dan kesalahan orang lain. Anak yang tumbuh di lingkungan orang tua yang suka ghibah berisiko menjadi pribadi yang suka menghakimi, sulit menghargai orang lain, dan kurang memiliki rasa empati terhadap sesama.
- Mengurang Kualitas Waktu dan Kehadiran Orang Tua. Keberhasilan bergosip menguras energy emosional dan pikiran orang tua pada urusan orang lain yang tidak produktif. Waktu dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan keluh kesah anak, mendampingi belajar, atau membangun kedekatan emosional menjadi berkurang karena orang tua sibuk dengan drama atau urusan orang lain.
- Menciptakan Lingkungan Rumah yang Penuh Energi Negatif. Ghibah pasti membawa emosi negatif seperti kecemburuan, kemarahan, atau rasa sinis ke dalam rumah. Lingkungan rumah yang dipenuhi energy negatif dapat membuat anak merasa kurang aman secara emosional, karena secara tidak sadar mereka menyerap ketegangan atau sinisme dari orang tua mereka.
- Resiko Penolakan Sosial pada Anak. Anak yang meniru ghibah orang tuanya dan menerapkannya di lingkungan pertemanan, mereka berisiko akan dijauhi oleh teman-temannya. Oleh teman-temannya akan dicap sebagai “tukang adu domba” atau “tidak bisa dipercaya”. Akhirnya hal itu akan mengganggu perkembangan sosial dan kesehatan mental mereka.
Keberhasilan mengasuh anak tidak hanya diukur dari pemenuhan materi atau fasilitas, melainkan juga dari kualitas karakter yang diwariskan oleh orang tua. Untuk memastikan pola asuh berjalan sukses, orang tua sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut :
- Menjaga Lisan. Hindari membicarakan orang lain, terutama di depan anak. Sebagai perintah Allah, wajib kita menghindari ghibah, baik di depan anak maupun di depan siapapun, sebab ghibah akan benar-benar merusak kebaikan dari segala segi, baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.
- Mengalihkan Obrolan. Jika anak mulai membawa gosip dari sekolah, alihkan fokus untuk membahas solusi emosional anak, bukan fokus membahas pada kesalahan orang lain.
- Fokus pada Refleksi Diri. Gunakan energi untuk mengevaluasi kekurangan diri sendiri dan perkembangan anak. Mengurusi hidup orang lain hanya akan membuang energi yang merugikan umur kita.
- Yakin pada Hukum Kausalitas. Perbuatan buruk ghibah akan mendatangkan keburukan bagi pelaku yang melakukan ghibah dan atau bagi keturunan dari pelaku yang melakukan ghibah.
