Ayat-Ayat Neraca Amal “TELADAN PARENTING NABI IBRAHIM”

Nabi Ibrahim adalah sosok yang sangat berdaulat secara Ilahiah. Nabi Ibrahim mendudukkan kekuasaan tertinggi secara mutlak milik Allah. Segala kedaulatan manusia harus bersumber pada hukum-hukum Allah. Konsep kedaulatan Ilahiah tersebut dibawa Nabi Ibrahim dalam proses mendidik anak. Dalam mendidik anak, Nabi Ibrahim menekankan komunikasi dua arah, keteladanan ibadah, dan penanaman akidah sejak dini. Nabi Ibrahim tidak mendidik dengan pemaksaan, melainkan melibatkan anak dalam proses berfikir dan berdialog. Gaya mendidik seperti itu terbukti bisa melahirkan generasi yang saleh, penyabar, dan berbakti sepenuhnya kepada Allah.
Dalam parenting atau pengasuhan, Nabi Ibrahim memegang teguh prinsip-prinsip utama berikut:

  1. Berdoa Mengharap Keturanan yang Saleh. Sebelum memiliki anak, Nabi Ibrahim senantiasa memohon keturunan yang taat beribadah. Doa ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat ayat 100 “ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh”.
  2. Mengutamakan Dialog dan Komunikasi Terbuka. Nabi Ibrahim mendengarkan pendapat anaknya. Saat menerima wahyu dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail, Nabi Ibrahim meminta persetujuan Ismail. Jawaban Ismail yang patuh membuktikan keberhasilan komunikasi dalam keluarga.
  3. Menanamkan Akidah di Atas Segalanya. Nabi Ibrahim mendidik anaknya untuk mengajarkan bahwa Allah menjadi prioritas utama dalam hidup. Nabi Ibrahim menjadi teladan tentang ketawakalan yang tinggi kepada Sang Pencipta. Salah satu teladan ketawakalan itu digambarkan saat Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir tandus Mekah demi menjalankan perintah Allah.
  4. Menjadi Teladan yang Konsisten (Uswah Hasanah). Pendidikan moral tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, melainkan lewat perbuatan nyatasebagai seorang ayah. Nabi Ibrahim mendidik melalui teladan ketaatan, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta kelembutan dan kasih sayang.
  5. Tawakal dan Yakin pada Janji Allah. Ketika dperintahkan meninggalkan istri dan anaknya, siti Hajar dan bayi Ismail, di lembah yang tandus (Mekah), Nabi Ibrahim tetap berikhtiar mencari jalan keluar dan sangat menjaga batasan halal dan haram. Ketaatan ini mendatangkan keberkahan yang luar biasa bagi anak keturunannya. Sebelum pergi, Nabi Ibrahim membekali Siti Hajar dan bayi Ismail berupa sekantong kurma dan sekantong air minum seadanya. Saat bekal habis dan menyaksikan Ismail menangis kehausan, sebagai istri Nabi Ibrahim yang taat kepada Allah, Siti Hajar berikhtiar mencari air minum yang halal. Ikhtiar itu dilakukan dengan berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ikhtiar maksimal Siti Hajar dibayar mahal oleh Allah berupa mukjizat keluarnya air zamzam dari hentakan kaki Ismail yang ditinggal berbaring sendirian.

Oleh : Aji Wijiono.
Tulisan ini disusun dari hasil inspirasi kesuksesan Nabi Ibrahim mendidik keluarga sebagai pengayaan NGAJI PARENTING

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *