Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.
Oleh :
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (UIN Saizu), Purwokerto.
Imam Al-Gazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din pernah mengingatkan bahwa ilmu tanpa pengolahan batin mudah berubah menjadi sumber kesombongan. Peringatan itu mengandung relevansi dengan perjalanan dunia pendidikan. Belakangan ini pendidikan terlalu sibuk mengejar kompetensi, tetapi mulai kehilangan empati sosial. Kita bisa menemukan orang yang sangat terpelajar, tetapi mudah merendahkan orang lain. Ada banyak orang memiliki banyak gelar, tetapi tidak tahan menghadapi kritik kecil. Ada pula banyak orang yang fasih berbicara tentang moralitas, tetapi dingin terhadap penderitaan orang lain di sekitarnya.
Pengetahuan formal ternyata tidak secara otomatis membuat manusia menjadi matang. Karena itu, saya semakin percaya bahwa menjadi manusia adalah proses yang tidak selesai oleh usia, gelar, kekayaan, ataupun jabatan. Ada proses pelajaran hidup yang baru dipahami seseorang setelah kehilangan. Ada proses kesadaran yang datang terlambat setelah bertahun-tahun hidup terlalu sibuk mengejar pengakuan. Dan semua proses itu sering berjalan sunyi, yang kurang mendapatkan intensitas dalam pembelajaran di dunia pendidikan. Ivan Illich dalam Deschooling Society mengkritik kecenderungan pendidikan modern yang terlalu percaya pada mekanisme kelembagaan dan sertifikasi formal ( Illich, 1971). Belajar menjadi manusia bisa dibangun dari bagaimana membangun kesabaran yang telah tertuang dalam kurikulum, tetapi kurang intensif diajarkan dan dipraktekkan. Belajar menjadi manusia bisa dibiasakan dari sikap menahan diri untuk menjadi pendengar bijak yang tidak serta merta gampang memotong pembicaraan. Belajar menjadi manusia bisa dilakukan dengan melatih diri menerima pendapat orang lain dan tidak reaktif terhadap kritik. Belajar menjadi manusia bisa dilakukan dengan membangun paradigma kepemilikan secara proporsional, dimana semua gelar, harta, jabatan yang ada pada kita adalah anugerah dari Tuhan, yang bisa lenyap sewaktu-waktu, sehingga tidak pantas kita sombongkan. Belajar menjadi manusia bisa kita lalui dengan membangun kehangatan hubungan dengan sesama yang tidak terjebak pada mesin pendidikan sebagai sistem produksi. Martin Buber dalam I and Thou melihat bahwa manusia bertumbuh melalui relasi yang sungguh-sungguh dengan manusia lain (Buber, 1970). Hubungan antar manusia dibangun tidak cukup hanya dengan fungsi dan peran formal akademis. Di dalamnya membutuhkan kehadiran empati yang membuat seseorang merasa diakui keberadaannya.
