Makan bergisi dan Halal: Nutrisi Cerdas dan Barakah

Makan bergizi itu penting. Manfaatnya besar bagi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan tubuh, kecerdasan otak dan kesehatan secara umum.  Melengkapi urgensi makan bergizi itu, ada hal lain yang juga tidak kalah penting.  Apa itu?. Hal lain yang dimaksud itu adalah makan secara barakah. Barakah ini akan melengkapi kebutuhan anak dalam mendapatkan kesehatan yang paripurna, yakni kesehatan jasmani dan rohani. Pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan tubuh yang diperoleh dari manfaat makan bergizi merupakan kebutuhan kesehatan jasmani. Sedangkan kesehatan rohani akan didapatkan dari barakahnya makanan dan minuman bergizi. Makan dan minum yang barakah adalah makan dan minum  yang  mengindahkan hal-hal berikut:

  1. Mengkonsumsi makanan yang halal (baik dan menyehatkan)
    Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata”.
    (QS. Al-Baqarah 168)
  2. Dilakukan dengan niat dan adab yang benar, antara lain; membaca do’a dan makan dengan tangan kanan.
  3. Menjaga kebersihan tangan, peralatan makan minum dan kebersihan lain yang terkait.
  4. Makan secukupnya dan tidak serakah.
  5. Ditutup dengan rasa syukur kepada Allah SWT.

Makan bergizi dan halal menjadi kombinasi yang menyehatkan sekaligus barakah bagi anak. Sehat secara jasmani dan rohani. Dalam memberikan MBG, tentu pemerintah telah memperhatikan hal ini. Di rumah, orang tua juga harus memiliki tanggungjawab moral untuk memperhatikan kehalalan makanan yang diberikan kepada anak.  Selain memperhatikan kehalalan zat yang dimakan, juga harus memperhatikan kehalalan darimana diperoleh uang untuk belanja makanan dan minuman. Uang hasil korupsi dan mencuri tentu bukan termasuk uang yang halal. Jika uang seperti itu digunakan untuk belanja makanan dan minuman yang kemudian diberikan kepada anak-anak, tentu akan menjauhkan anak-anak dari kehadiran barakah hidup. Hal seperti ini akan mengkhawatirkan bagi kebaikan anak-anak. Makan bergizi dari uang hasil korupsi, mencuri dan sumber lain yang tidak baik, mungkin saja bisa membuat anak cerdas otaknya. Namun, dibalik kecerdasan itu pasti akan terjadi kenapa-kenapa pada anak-anak. Perilaku anak bisa saja menjadi buruk. Bisa juga mendatangkan penyakit, serta kemungkinan keburukan-keburukan lainnya.  

“Makanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu beriman”

( Al-Ma’idah 88)

Dampak dari makanan yang haram akan menimbulkan keburukan-keburukan antara lain:

  1. Tertolaknya amal ibadah
  2. Terabaikannya do’a
  3. Terkikisnya iman
  4. Mengeraskan hati
  5. Energi tubuh dari makanan haram cenderung  mendorong  melakukan kemaksiatan.
  6. Sulitnya menerima ilmu Allah
  7. Dicampakkannya ke neraka

“Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya”

(HR. At-Thabrani)

Memenuhi kebutuhan gizi anak dari rezeki cinta Ilahi dengan mengutamakan kehalalan, akan menjadi sisi utama dalam mengasah keterampilan parenting (pengasuhan) orang tua terhadap anak. Sisi utama ini akan mendorong kesadaran orang tua bahwa rezeki halal merupakan nutrisi rohaniah yang bisa memudahkan anak-anak menerima ilmu serta melembutkan hati. Untuk meyakini hal ini, kita bisa membaca sebuah analog yang secara logika mudah diterima akal. Analog itu misalnya; ketika kita mengkonsumsi makanan yang tidak bersih dan mengandung bakteri, tentu kita akan menghadapi resiko kena penyakit. Sama halnya, ketika kita mengkonsumsi makanan yang kotor karena tidak halal, tentu kita akan menghadapi resiko berupa keburukan jasmani dan rohani.

Sisi utama tentang kehalalan rezeki harus menjadi kesadaran mendasar dalam menjalankan amanah mendidik anak-anak. Mendambakan anak-anak menjadi anak yang cerdas, berakhlak mulia, berguna bagi agama, bangsa dan negara, salah satu kuncinya tidak mengabaikan sisi utama kehalalan rezeki. Pertanyaan buat kita semua adalah apakah selama ini kita sudah care dan sangat memperhatikan  terhadap kunci penting ini. Mungkin saja selama ini kita masih belum begitu menyadari bahwa kenakalan anak kita disebabkan oleh pengabaian terhadap kehalalan makanan dan minuman yang kita berikan kepada anak-anak kita.           

Dari hasil penelitiannya, Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menemukan hasil bahwa faktor kehalalan atau keharaman makanan mempengaruhi tingkat kenakalan anak. Di daerah yang dikenal banyak maksiat dalam memperoleh rezeki, ditemukan banyak anak yang jahat, bodoh, egois dan mudah marah.       

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *