Sedekah Keteladanan Bagi Kemuliaan

Satu teladan lebih baik dibanding seribu nasihat. Keteladanan adalah nasihat terindah dalam kehidupan.[1] Nasihat secara lisan tentang kebaikan itu memang indah. Dan akan semakin indah apabila nasihat itu disertai keteladanan.  Bagaimana kalau ada seseorang pintar memberikan nasihat baik, tetapi tidak bisa menjadi teladan yang baik ?. Bermanfaatkah nasihat seperti itu?. Kita masih bisa mengambil manfaat dari orang yang menyuruh kita disiplin dan patuh terhadap peraturan lalu lintas,  meskipun kita tahu kalau yang bersangkutan tidak terlalu disiplin. Jadi, kita tidak usah terlalu sentimen dari mana datangnya suatu kebaikan. Apakah datang dari orang yang bisa menjadi teladan baik, atau datang dari orang yang belum bisa menjadi teladan yang baik. Kalau dia baru bisa sebatas ngomong dan belum bisa melakukan apa yang diomongkan, biarkan saja menjadi urusan dia sendiri. Orang yang mempunyai kemampuan menyampaikan kebaikan, tetapi tidak mampu menjadi teladan yang baik, ibarat masakan kualitasnya setengah matang. Dan sampai kasus tertentu, bisa menjadi bagian dari orang-orang munafik. Misalnya, orang yang dimana-mana ceramah tentang kejujuran, tetapi tidak mampu menjadi orang jujur, orang seperti ini termasuk orang munafik. 

Secara marketing, bertindak sebagai teladan yang baik bagaikan menjadi topline  yang akan memperoleh keuntungan ganda.  Keuntungan pertama dari perbuatan baik kita sendiri dan keuntungan kedua dari perbuatan baik  yang dilakukan orang lain yang telah meneladani kita.  Nama dari orang yang telah bisa menjadi teladan yang baik akan dikenang sebagai orang bereputasi terhormat. Seorang teladan akan  berbau harum dan bernilai luhur. Sedangkan nama dari orang yang baru bisa ngomong tentang kebaikan tapi belum bisa menjadi teladan yang baik,  akan dicibir Dia itu pinter ngomong tentang kebaikan, tetapi belum bisa mengamalkan“. Orang seperti itu, tidak akan terlalu bisa menggugah keinginan orang lain untuk berdo’a kebaikan bagi orang yang hanya bisa ngomong. Padahal do’a kebaikan sangat penting bagi kita baik untuk kebutuhan saat  masih hidup maupun saat ajal sudah menjemput kita. [2]  Oleh karena itu, marilah kita bangun keteladanan yang baik.  Dari situ kita akan mendapatkan keuntungan dari hal baik yang kita amalkan, mendapatkan bagian keuntungan dari perbuatan baik orang lain yang meneladani kita serta do’a kebaikan yang dilantunkan oleh orang lain karena tergugah oleh reputasi kita sebagai teladan yang baik.  

Marilah menjadi teladan-teladan sebagai marketer kebaikan.  Dan akah lebih dahsyat kalau teladan-teladan kebaikan itu juga datang dari orang-orang kaya dan penguasa. Bayangkan, berapa besar kebaikan yang akan kita dapatkan, bila setiap orang kaya dan penguasa bisa menjadi marketer yang hebat untuk mempengaruhi orang lain berbuat baik dengan keteladanannya. Dan bukan mempengaruhi orang lain dengan omongan atau bicaranya saja. Hari ini kita merindukan kehadiran keteladanan. Hari ini kita mengharapkan kemuliaan dan peradaban bangsa semakin tumbuh bersama kehadiran keteladanan.

Orang tua dan guru menjadi figur dan tokoh sentral teladan bagi anak-anak. Kolaborasi parenting antara orang tua dan guru akan kehilangan roh luhurnya, apabila pengasuhan lebih banyak didominasi oleh telunjuk perintah dan minim telunjuk keteladanan. Jariyah kemuliaan terbesar akan datang dari sumbangsih keteladanan. Martabat bangsa tertinggi akan datang dari heroisme keteladanan. Keemasan generasi paling kemilau akan datang dari bersinarnya keteladanan. Sehingga, salah satu legacy  berharga dari orang tua dan guru adalah pembagian keteladanan bagi anak-anak. Inilah legacy terindah sebagai kekayaan kehidupan dan deposito kekekalan (akhirat).


[1]  QS. Al-Ahzab 21, menjadi rujukan tentang keteladanan Nabi Muhammad SAW. Teladan dalam pergaulan keluarga, teladan dalam interaksi dengan masyarakat, teladan dalam dakwah, teladan menghadapi tantangan serta teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Terjemahan QS. Al-Ahzab 21 adalah “ Sungguh pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah”.

[2]   HR.Bukhari no 1982 dan Muslim no 660, Doa memohon rezeki di dunia dan berkahnya untuk kebutuhan dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *