Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.
Oleh ; Wijiono, SE, Ak (Penulis buku Neraca Amal)
Emosi memiliki arti sebagai reaksi kompleks yang melibatkan proses penilaian, pengalaman, perilaku, dan perubahan fisiologis yang digunakan untuk menangani masalah atau peristiwa penting yang dialami individu. Sehingga, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola dan menggunakan emosi diri sendiri serta orang lain secara efektif, yang melibatkan kesadaran diri, pengendalian diri, empati, keterampilan sosial, dan motivasi diri. Allah berfirman sebagai landasan kuat untuk mengendalikan emosi kita.
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”.
(QS. Al-Baqarah 153)
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
QS. Ali ‘Imran 134)
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.
(QS. Ar-Rad 28)
Orang yang terampil mengendalikan diri dalam kesabaran cenderung memiliki kekayaan batin dan akan memperoleh keberuntungan dari Allah. Kekayaan batin itu adalah sumber kekuatan untuk memupuk rasa syukur. Sabar dan syukur itulah yang akan memupuk ketenteraman hati. Sabar dan syukur akan tercatat sebagai kekayaan dunia sekaligus kekayaan akhirat. Itulah keberuntungan dari Allah yang akan menjadi hadiah spiritual bagi orang yang sabar dan pandai bersyukur. Selain sebagai kekayaan batin, keberuntungan itu juga akan datang sebagai keberuntungan material.
Kecerdasan emosional yang kita kelola dengan baik akan menjadi kekayaan kehidupan yang sangat berharga. Tidak hanya berharga di kehidupan dunia, tetapi juga berharga di kehidupan akhirat. Menempatkan kecerdasan emosional, kecerdasan fisik dan kecerdasan spiritual sebagai bagian dari kekayaan amal sangat selaras dengan perintah agama yang menempatkan semua kecerdasan itu sebagai anugerah dari Allah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan. Dan semua kebaikan yang dihasilkan dari pengelolaan semua kecerdasan itu akan tercatat sebagai amal baik.
Perintah agama yang bernilai sebagai hikmah besar itu sampai-sampai menjadi inspirasi ajaran stoikisme. Stoikisme mengajarkan tentang kesabaran, pengendalian diri, kebijaksanaan dan penerimaan terhadap hal-hal di luar kendali kita. Stoikisme, sebagai ajaran Yunani Kuno memberi pelajaran bijak bagaimana mereaksi situasi eksternal degan mengutamakan kekuatan pengendalian diri. Menurut ajaran stoikisme, jangan sampai kita terkendali oleh situasi eksternal. Emosi-emosi negatif seperti kemarahan dan ketakutan harus bisa kita kendalikan agar tidak menguasai keputusan dan tindakan. Sebab, keputusan dan tindakan yang kita lakukan dalam suasana emosi negatif, akan kehilangan unsur rasionalitas dan menghasilkan tindakan impulsif yang minim logika dan pertimbangan akal sehat. Keputusan dan tindakan dalam suasana emosi negatif akibatnya akan menyakiti diri sendiri, orang lain serta memperburuk hubungan sosial. Dampak dari emosi negatif dapat menyebabkan gangguan suasana hati yang buruk, stress dan depresi. Kondisi seperti ini dapat memicu penyakit kronis seperti penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, sakit kepala dan gangguan pencernaan. Pengelolaan terhadap pengendalian diri akan membantu mencapai tujuan. Pengendalian diri akan meningkatkan disiplin dan motivasi menghadapi kesulitan serta bisa fokus pada pencapaian tujuan jangka panjang. Pengendalian diri akan membantu kita berfikir jernih dan membuat keputusan lebih baik dan lebih produktif.




