Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.
6 Agustus 2026
“Anak-anak kita tidak dilahirkan bodoh. Mereka hanya tumbuh di lingkungan yang sering kali lebih akrab dengan layar daripada lembaran buku yang merupakan salah satu asupan penting otaknya.”
Kalimat ini mungkin terasa menohok. Namun, inilah kenyataan yang harus kita hadapi.
Banyak orang tua rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk les, gawai terbaru, hingga sekolah mahal. Namun, berapa banyak rumah di Indonesia yang memiliki rak buku yang aktif dibaca seluruh anggota keluarga?
Jika jawabannya masih sedikit, maka jangan heran apabila kualitas berpikir generasi kita belum berkembang sebagaimana mestinya.
Perlu diluruskan sejak awal bahwa kecerdasan anak tidak bisa diwakili hanya oleh angka IQ. Angka rata-rata IQ suatu negara yang sering beredar di media sosial berasal dari metodologi yang banyak diperdebatkan dan tidak layak dijadikan ukuran tunggal kualitas kecerdasan bangsa. Salah satu indikator yang diakui kredibelitasnya untuk melihat kemampuan berpikir dan literasi adalah hasil PISA (Programme for International Student Assessment) dari OECD.
Hasil uji PISA 2022, kemampuan siswa Indonesia berusia 15 tahun masih berada di bawah rata-rata OECD dalam membaca, matematika, dan sains. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya sekitar 25% siswa Indonesia yang mencapai tingkat kecakapan minimum (Level 2) dalam membaca, sementara rata-rata OECD mencapai sekitar 74%. Artinya, sekitar tiga dari empat siswa Indonesia belum memiliki kemampuan membaca yang memadai untuk memahami informasi secara efektif.
Pertanyaannya bukan lagi “Apakah anak kita pintar?”, melainkan “Apakah kita sudah menciptakan lingkungan yang membuat mereka menjadi pintar?”
Tiga Strategi Meningkatkan Kecerdasan Anak
- Bangun Kebiasaan Membaca dari Diri Sendiri
Anak belajar melalui contoh.
Jangan berharap anak mencintai buku jika orang tuanya lebih sering menggulir media sosial daripada membuka satu halaman bacaan.
Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan. Aktivitas ini melatih daya ingat, memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta membangun imajinasi dan empati.
Mulailah dari langkah sederhana:
- Membaca 20–30 menit setiap hari.
- Mendiskusikan isi bacaan bersama anak.
- Mengurangi waktu layar yang tidak produktif.
Rumah yang dipenuhi buku akan melahirkan percakapan yang berkualitas.
- Orang Tua Adalah Role Model Pertama
Sekolah hanya mengajar beberapa jam setiap hari.
Selebihnya, karakter dan pola pikir anak dibentuk di rumah.
Jika orang tua gemar membaca, berdiskusi, bertanya, dan mencari jawaban bersama, anak akan menganggap belajar sebagai kebutuhan, bukan hukuman.
Sebaliknya, jika rumah hanya dipenuhi televisi dan gawai tanpa budaya membaca, anak kehilangan teladan intelektual.
Ingatlah, anak lebih banyak meniru daripada mendengar nasihat.
- Negara Harus Menghadirkan Perpustakaan yang Hidup
Meningkatkan kecerdasan bangsa bukan hanya tugas keluarga, melainkan kolaborasi dengan pemegang amanah negara.
Pemerintah harus memastikan setiap desa, kelurahan, sekolah, dan ruang publik memiliki perpustakaan yang mudah diakses, nyaman, serta aktif mengadakan kegiatan literasi.
Perpustakaan tidak boleh menjadi gudang buku yang sepi. Ia harus menjadi pusat belajar masyarakat, tempat anak-anak tumbuh menjadi pembaca, peneliti kecil, dan pemikir masa depan.
Negara maju bukan dibangun oleh gedung-gedung tinggi semata.
Negara maju dibangun oleh masyarakat yang gemar membaca, berpikir kritis, dan terus belajar sepanjang hayat.
Setiap buku yang dibaca seorang anak hari ini adalah investasi bagi kualitas pemimpin, ilmuwan, pengusaha, guru, dan warga negara pada masa depan.
Jika Indonesia ingin melompat menjadi bangsa yang unggul, revolusi itu tidak harus dimulai dari ruang sidang atau gedung pemerintahan.
Revolusi itu dimulai dari rumah, ketika orang tua membuka buku, mengajak anak membaca, dan menjadikan literasi sebagai budaya keluarga.
Karena pada akhirnya, kecerdasan bukan diwariskan. Kecerdasan dibangun—halaman demi halaman, buku demi buku, dan teladan demi teladan.
Ditulis oleh: Siska Mariska untuk PAPERBA dan NGAJI PARENTING.
