Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.
Oleh : Wijiono, SE,Ak Penulis Buku NERACA AMAL
Kebiasaan baik yang terpupuk sejak usia anak-anak akan menjadi fondasi membangun kesuksesan yang sebenarnya. Orang kaya sukses bukan karena neraca keuangannya semata. Seberapapun jumlah harta dalam neraca keuangannya, jika diperoleh dengan cara korupsi, ia bukan orang kaya yang sukses. Orang berkuasa sukses bukan karena tinggi jabatannya. Sekuat apapun kekuasannya, jika kekuasaan itu digunakan untuk memperbesar neraca keuangannya secara curang, ia bukan orang berkuasa yang sukses.
Orang sukses secara benar adalah orang yang tetap takut berbuat curang, meskipun harta dalam neraca keuangannya tak seberapa. Oleh karena itu, kesuksesan seseorang tidak mutlak ditentukan oleh neraca keuangannya. Lalu, ditentukan oleh apa? Neraca keuangan hanya menjadi salah satu indikator kesuksesan seseorang. Jika neraca keuangan itu dikonsolidasikan dengan neraca amal, maka hal itu akan menjadi indikasi bahwa orang itu benar-benar sedang mencari kesuksesan yang sebenarnya. Mencari harta yang halal adalah upaya mengkonsolidasikan neraca keuangan ke dalam neraca amal. Mau berbagi dengan sesama adalah upaya mengkonsolidasikan neraca keuangan ke dalam neraca amal. Neraca keuangan yang dikonsolidasikan ke dalam neraca amal merupakan indikator kesuksesan yang sebenarnya.
Apakah dibenarkan, menganggap seseorang itu sukses meskipun ia memiliki banyak uang, namun uangnya diperoleh dari korupsi dan menipu orang lain. Apakah dibenarkan, menganggap seseorang itu sukses, meskipun ia mudah mencari uang, namun uangnya diperoleh dari hasil melacurkan diri. Apakah dibenarkan, menganggap seseorang itu sukses, meskipun yang bersangkutan memiliki banyak uang, namun uangnya diperoleh dari kelicikannya melakukan mark up serta manipulasi anggaran. Apakah dibenarkan, menganggap seseorang itu sukses, meskipun ia kaya dengan segudang uang, namun uang dan kekayaannya didapatkan dari transaksi suap menyuap.
Lantas bagaimana seharusnya? Penilaian sukses atau gagalnya seseorang harus menggunakan perspektif yang lebih luas dan utuh. Sukses atau gagalnya seseorang tidak bisa diukur hanya dari sekedar jumlah uang dan hartanya. Masih harus dilihat dan dicermati dari mana sumber uang dan hartanya. Dicermati dari kualitas syukur dan tawakalnya. Dicermati dari kepedulian tentang semangat berbaginya dengan sesama. Bahkan, masih harus dicermati lebih luas lagi. Akan digunakan untuk apa uang dan hartanya? Oleh karena itu, neraca keuangan sebaiknya diletakkan dan didudukkan menjadi bagian integral dari neraca amal. Di dalam neraca amal terdapat aktiva amal, kewajiban amal dan modal amal.
Di mana posisi neraca keuangan dalam neraca amal kita? Neraca keuangan menjadi salah satu bagian dari aktiva amal di neraca amal. Sebagai aktiva, harta kekayaan yang diperoleh secara halal sebagai tambahan harta kekayaan di neraca keuangan akan terkonsolidasi sebagai tambahan aktiva neraca amal. Hanya harta kekayaan halal dan dimanfaatkan untuk berbagi dengan sesama, infaq, shodaqah dan zakat yang bisa menjadi tambahan/peningkatan aktiva neraca amal. Pemanfaatan harta kekayaan halal seperti itu akan tercatat sebagai tambahan/peningkatan amal shaleh dan deposito akhirat. Sebaliknya, harta kekayaan halal yang hanya disimpan dan tidak dimanfaatkan untuk berbagi dengan sesama, infaq, shodaqah dan zakat serta tidak mampu meningkatkan kualitas ibadah, hanya akan bermanfaat sebagai aktiva di dunia saat kita masih hidup dan bermanfaat bagi ahli waris.
Saat meninggal dunia dan memiliki sisa harta kekayaan halal yang kita wariskan kepada ahli waris, harta kekayaan itu masih akan menjadi tambahan deposito akhirat, apabila ahli waris mampu memanfaatkan harta warisan dengan baik. Anak shaleh sebagai salah satu ahli waris, diharapkan mampu mengelola harta kekayaan yang kita tinggalkan di dunia dengan baik. Agar harta kekayaan bisa terus menambah aktiva di neraca amal, meskipun kita telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, anak shaleh merupakan aktiva yang tinggi nilainya dalam neraca amal. Selain sebagai sumber deposito akhirat dari pengelolaan harta kekayaan yang kita wariskan kepada anak kita yang shaleh, ia akan menjadi sumber deposito akhirat dari perilaku dan perbuatan shaleh lainnya dari anak shaleh. Bagaimana dengan harta kekayaan yang diperoleh secara haram? Harta haram hanya akan tercatat sebagai tambahan neraca keuangan, namun justru akan menurunkan nilai neraca amal. Uang haram hasil korupsi, memang bisa menambah aktiva dalam rekening bank atau saldo uang tunai yang kita simpan di bawah ‘bantal. Tetapi, uang hasil korupsi itu hanya akan menghasilkan dosa amal di neraca amal. Dosa amal itu akan tercatat sebagai saldo amal buruk dan menjadi modal negatif yang akan membebani kehidupan dan kematian. Menjalani hidup dengan uang hasil korupsi menunjukkan bahwa aktiva amal kecerdasan sipiritual kita rendah. Hidup dengan harta kekayaan hasil korupsi akan menurunkan aktiva amal kecerdasan emosional dalam bentuk keresahan, kekhawatiran dan ketidaktenangan lainnya. Umur dan kesehatan fisik yang diberikan oleh Allah sebagai aktiva juga akan teracuni oleh harta kekayaan hasil korupsi. Keracunan kesehatan fisik juga akan berdampak negatif pada tingkat kecerdasan intelektual.




