Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.

Shalat adalah salah satu kebiasaan baik beribadah bagi umat muslim. Puncak kualitas dari ibadah shalat adalah shalat yang dilakukan seorang muslim secara khusyuk. Jika seorang muslim benar-benar menyadari shalat sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan, sarana memohon dan berdoa kepada Tuhan, serta sarana pengakuan dan keimanan terhadap kematian dan adanya hari pembalasan, maka ia akan berupaya keras untuk menjalankan shalat dengan khusyuk.
Relasi antara shalat khusyuk dengan kesuksesan hidup, antara lain ; jaminan kebahagiaan dan kemenangan (falah), mencegah perbuatan keji dan munkar, ketenangan hati dan kejernihan pikiran, pembentukan akhlak mulia, solusi masalah hidup, dan keberkahan rezeki. Bagaimana cara memastikan shalat kita bisa khusyuk?. Marilah kita renungkan hal-hal berikut:
- Memahami secara baik dan benar tata cara shalat sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Pemahaman tersebut harus didukung oleh dasar hukum tentang bacaan dan gerakan shalat. Selain mempelajari Al Qur’an dan Al Hadist, dalam proses pemahaman itu perlu kehadiran para ulama sebagai upaya memastikan kebenaran dasar hukum.
- Memahami benar tentang keutamaan dan hikmah-hikmah shalat sebagai bagian integral dari tujuan shalat untuk memperoleh ridha Allah SWT. Dengan pemahaman ini, shalat akan terasa nyaman dan nikmat.
- Menjadikan shalat sebagai kebutuhan dan bukan sebagai kewajiban yang terasa beban. Kebutuhan untuk menjalin komunikasi yang intens dengan Alllah, memanjatkan permohonan, menyandarkan keselamatan dan kesejahteraan kepada Allah, serta kebutuhan silaturahmi dengan sesama di masjid.
- Melantunkan setiap bacaan/ dzikir dalam shalat dengan baik dan benar disertai makhraj huruf dan tajwid yang tepat.
- Merenungkan dan menghayati setiap arti bacaan shalat
- Menjalankan shalat secara tuma’ninah, yakni shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Setiap gerakan dan perpindahan dari satu posisi ke posisi yang lain, kita lakukan dengan tenang. Rasulullah SAW pernah menyuruh seseorang yang tergesa-gesa dalam shalatnya, untuk mengulang shalatnya tersebut.
- Menyadari betul bahwa tidak akan ada pahala bagi orang yang shalat kecuali apa yang ia sadari dan mengerti dari setiap bacaan dan gerakan shalat. Untuk itu, hendaknya kita bisa konsentrasi penuh berkomunikasi dengan Allah dengan melupakan segala urusan duniawi sepanjang menjalankan shalat.
- Memperbanyak istighfar kepada Allah Ya Ghafar setelah shalat sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW, di mana beliau beristighfar tidak kurang 70 (tujuh puluh) kali istighfar dalam sehari semalam.
- Menggunakan perasaan diawasi oleh Allah dalam shalat sebagai momentum untuk meninggalkan dosa dan maksiat dalam kehidupan sehari-hari. Allah Ya Raqib mengawasi hamba-Nya dalam shalat dan di luar shalat. Keresahan dan kegundahan akibat dosa dan maksiat akan mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan kita dalam menjalankan shalat. Dan hal ini akan menjadi lingkaran setan. Shalatnya tidak bisa khusyuk karena kualitas ihsannya rendah. Selanjutnya, shalatnya tidak bisa mencegah perbuatan dosa dan maksiat akibat shalatnya tidak bisa khusyuk. Demikian seterusnya, lingkaran setan itu membelenggu kita. Celakalah kita, kalau sudah berada pada lingkaran seperti ini.
- Memohon perlindungan kepada Allah dari segala bisikan dan gangguan setan, agar kita bisa berkonsentrasi dan khusyuk dalam shalat.
- Menjauhi dari hal-hal yang haram, baik berupa makanan, minuman, pakaian maupun kekayaan yang kita gunakan untuk shalat dan kita gunakan untuk kebutuhan lainnya. Allah tidak akan ridha dan menerima shalat dan amalan lain yang dalam diri dan kekayaan kita terdapat sesuatu yang haram.
- Memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan untuk menjalani ketaatan kepada-Nya dan shalat dengan khusyuk. Doa yang bisa kita panjatkan kepada Allah, antara lain dengan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut “ Ya Allah tolonglah aku dalam mengingat-Mu, dalam syukur kepada-Mu, dan dalam melakukan ibadah yang baik kepada-Mu” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Ahmad dan Hakim dari Muadz bin Jabal)
Sumber : Buku ”RINDU SHALAT BERJAMAAH” yang ditulis oleh : Drs. Nuryono, M.Pd.




