Inovasi Besar Parenting secara impresif, menghibur dan bermakna melalui pendekatan intelektual, emosional dan spiritual.
Saya bersyukur Tuhan telah memberi saya harta yang cukup, tapi sayangnya lambung saya sering sakit. Saya bersyukur Tuhan telah memberikan saya rumah tempat tinggal, tapi sayangnya tetangga saya banyak yang usil. Saya bersyukur Tuhan telah menjadikan anak saya sebagai seorang dokter, tapi sayangnya istrinya kurang perhatian kepada saya. Saya bersyukur Tuhan telah memberikan hidayah kepada saya menjadi orang yang rajin shalat berjamaah, tapi sayangnya jarak rumah saya ke masjid lumayan jauh. Saya bersyukur Tuhan telah menjadikan anak-anak saya sukses, tapi sayangnya tidak ada satu pun anak yang menemani saya tinggal di rumah. Saya bersyukur Tuhan telah menyembuhkan penyakit saya, tapi sayangnya sekarang saya kehilangan pekerjaan.
Ucapan syukur yang dipenggal dengan kata “tapi” menunjukkan bahwa kualitas syukur kita belum sempurna. Seharusnya bersyukur itu tidak ber-TAPI. Penggunaan kata “tapi” mengurangi nilai positif dari ucapan syukur. Ketidaksempurnaan bersyukur yang ber-TAPI, anata lain:
- Syukurnya tidak tulus karena menunjukkan ketidakpuasan (tidak ridha)
- Tergolong kufur nikmat secara terselubung dan akan mengurangi nilai kebahagiaan
- Menghambat produktivitas. Kekecewaan dan berkurangnya nilai kebahagiaan akan melemahkan positif thinking yang selanjutnya akan menurunkan semangat dan produktivitas.
Sebagai bekal memperbaiki diri, mari kita renungkan pelajaran-pelajaran penting di bawah ini, sebagai pemacu kesadaran untuk menjadi orang yang mampu menyempurnakan rasa syukur.
- “…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim 7). Firman Allah ini akan menjadi landasan untuk menyempurnakan kualitas syukur. Yakni, terungkap dari hati yang ridha, terucap secara mendalam dan tulus tanpa “tapi” serta terwujud dalam amal perbuatan yang baik.
- Hadis Riwayat Ibnu Majah “Alhamdulillah ‘ala kulli halin wa ni’matin (segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan dan (atas setiap nikmat). Dzikir tersebut adalah doa untuk tetap bersyukur dalam suka maupun duka serta mengakui segala nikmat-Nya. Makna doa ini sangat mendalam, mengandung rasa syukur atas ujian (agar tetap bersyukur) dan syukur atas kebahagiaan. Selalu ridha, baik saat mendapat rezeki (membahagiakan) maupun menghadapi kesulitan.




